BSCpGUY5BSM7TpClGSGoTUCiBA==

40 Tahun Menanti, Akses Jalan Ke Dusun Murbaya Rusak Total Pemda Tutup Mata.

 


“Warga Harap Pemkab Lombok Tengah Segera Bertindak untuk Jalur Ekonomi dan Pendidikan”

Lombok Tengah, dialogmandalika.com (24/20) --- Di tengah geliat pembangunan yang terus digembar-gemborkan pemerintah daerah, ada satu suara lirih dari Desa Murbaya, Kecamatan Pringgarata, yang hingga kini nyaris tak terdengar. 

Warga di desa tertua ini sudah menunggu selama 40 tahun untuk sekadar merasakan jalan beraspal yang layak. Empat kali pergantian kepala desa, empat dekade penuh harapan, namun jalan itu tetap berlubang, berbatu, dan berdebu.

“Sudah empat kepala desa berganti, tapi tak satu pun yang mampu mewujudkan infrastruktur jalan yang baik,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Desa Murbaya dengan nada getir. “Desa kami satu-satunya di Lombok Tengah yang belum dilalui oleh jalan hotmix.”

Kondisi ini bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi urat nadi ekonomi dan pendidikan masyarakat yang terhambat. Dusun Kekale’, misalnya, menjadi pusat industri kecil dan menengah dengan pabrik tahu-tempe, usaha bengkel, hingga bisnis otomotif. Namun akses jalan yang rusak membuat pengangkutan bahan baku dan distribusi hasil produksi sering terkendala.

Tak hanya itu, Dusun Murbaya dikenal sebagai pusat ilmu dan seni, tempat para penggiat budaya lokal menyalakan lentera peradaban. “Bagaimana kami bisa membawa karya seni dan kreativitas anak-anak ke luar desa jika jalannya saja sulit dilalui?” tanya seorang warga yang juga pengajar seni di Murbaya.

Di jalur yang sama, berdiri pula pondok pesantren dan lembaga tahfiz yang telah melahirkan banyak hafiz dan hafizah. Namun akses menuju tempat pendidikan ini pun tidak layak, terutama di musim hujan, ketika jalan berubah menjadi kubangan lumpur.

Sekitar 70 persen warga Murbaya adalah petani dan peternak. Mereka bergantung penuh pada akses jalan yang baik untuk menjual hasil bumi. Jalan rusak berarti harga jual menurun, waktu tempuh bertambah, dan roda ekonomi tersendat.

Kini, harapan itu kembali dinyalakan. Setelah status jalan meningkat menjadi jalan kabupaten, warga Murbaya berharap Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, khususnya Bupati sebagai pimpinan tertinggi di daerah, dapat menjadikan pembangunan jalan ini sebagai agenda mendesak.

“Kami tidak meminta lebih. Kami hanya ingin jalan yang layak. Jalan yang bisa kami banggakan, yang bisa membawa hasil tani, karya seni, dan masa depan anak-anak kami menuju cita-cita mereka,” ujar warga dalam pernyataan yang disampaikan secara terbuka kepada pemerintah daerah melalui berbagai media sosial dan pernyataan langsung warga sekitar.


Empat puluh tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk menunggu sebuah perhatian. Desa Murbaya tidak meminta belas kasihan, mereka menuntut keadilan pembangunan. Sebab, di balik setiap lubang jalan di Murbaya, tersimpan jejak perjuangan rakyat kecil yang tak pernah lelah berharap bahwa pemerintah akan datang bukan hanya dengan janji, tetapi dengan tindakan yang nyata.

Kini, bola ada di tangan Bupati Lombok Tengah. Apakah jeritan warga Murbaya akan kembali tenggelam di antara gemuruh proyek-proyek besar, atau justru menjadi awal dari babak baru pemerataan pembangunan di Lombok Tengah?

Warga sudah menunggu cukup lama. Dan “40 tahun, seharusnya, lebih dari cukup untuk mendengar.” Tutup Hulwani, salah seorang dari warga setempat.(Ad-001)

Comments0

Type above and press Enter to search.