Oleh : Feri Rusdiono SH
Penulis Adalah Jurnalis Senior Sekaligus Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Wartawan Online Dwipantara (PWOD)
Babak Baru Sebuah Negara
Republik Indonesia hari ini sedang menapaki fase baru. Fase di mana negara tidak lagi hanya berdiri secara administratif, tetapi berdiri dengan kesadaran penuh akan kedaulatan moral dan jati dirinya.
Setelah bertahun-tahun terjebak dalam lingkaran kepentingan elit dan dominasi modal asing, bangsa ini akhirnya memilih jalan yang berbeda: jalan pembersihan, jalan penataan, jalan kemandirian.
Gerakan nasional ini bukan dimulai dari pidato, tetapi dari tindakan. Pemerintah menata ulang institusi, menertibkan hukum, menutup kebocoran anggaran, dan menegakkan kedaulatan ekonomi.
Dan seperti setiap perubahan besar dalam sejarah bangsa mana pun, langkah ini tidak datang tanpa perlawanan. Mereka yang selama ini hidup nyaman di zona abu-abu, kini mulai gelisah.
Karena mereka tahu: era kemunafikan sudah selesai. Negara sedang mengganti bab lama dengan bab baru — dan bab baru ini tidak menyediakan ruang untuk korupsi, narkoba, atau mafia investasi.
Pembersihan Nasional dan Gelombang Perlawanan Tersembunyi
Dalam tiga tahun terakhir, masyarakat mulai menyaksikan hal yang jarang terjadi sebelumnya: penegakan hukum tanpa pandang bulu.
Tokoh besar, pengusaha, bahkan pejabat yang dulu dianggap kebal hukum, kini satu per satu digiring ke meja hijau.
Di sisi lain, perang terhadap narkoba bukan lagi seremoni. Gudang, pelabuhan, dan jaringan distribusi besar kini menjadi sasaran operasi lintas lembaga.
Semua ini menjadi bukti bahwa negara tidak lagi bernegosiasi dengan kejahatan.
Tapi di balik keberanian itu, muncul arus perlawanan yang tak kalah kuat. Arus ini bergerak di balik layar, memainkan opini publik, dan menciptakan narasi tandingan di media sosial.
Skema Lama, Wajah Baru
Jika kita membuka buku sejarah, kita akan menemukan pola yang sama: setiap kali bangsa ini berbenah, selalu ada kekuatan yang berusaha menggagalkannya.
Tahun 1963–1965 menjadi catatan penting. Saat itu, kekuatan nasional yang mencoba berdiri di atas kaki sendiri diguncang dari dalam dengan skenario besar.
Saat itu, ideologi, kepentingan ekonomi, dan pengaruh asing berkelindan menjadi satu, menciptakan krisis kepercayaan nasional.
Kini, enam puluh tahun kemudian, pola itu berulang, dengan metode yang lebih modern dan lebih halus.
Media digital menjadi senjata utama, opini publik menjadi medan tempur, dan rakyat dijadikan target perang psikologis.
Tiga Kekuatan di Balik Kegelisahan
Pertama, kelompok ekonomi lama yang kehilangan kendali terhadap proyek strategis nasional. Mereka tidak lagi bebas menentukan arah investasi dan pembagian keuntungan.
Kedua, lawan politik yang frustasi. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan polarisasi, karena rakyat mulai jenuh dengan konflik politik tanpa manfaat.
Ketiga, kelompok reformis semu yang kini banyak disusupi oleh ideologi asing dan nostalgia terhadap sistem lama yang pernah gagal.
Ketiganya bersatu dalam satu tujuan : menggoyang stabilitas pemerintahan dan menjatuhkan kepercayaan publik terhadap RI 01.
Dan seperti biasa, mereka tidak menyerang secara frontal. Mereka bekerja lewat narasi, lewat persepsi, dan lewat jaringan bayangan yang tak terlihat oleh publik.
Bayangan Ideologi Lama
Sejarah tidak pernah mati. Ia hanya berganti pakaian. Begitu pula ideologi lama yang pernah menghancurkan bangsa ini dari dalam.
Kini mereka muncul lagi, bukan dengan simbol palu-arit, tapi dengan narasi baru: keadilan sosial tanpa Ketuhanan, kesetaraan tanpa Pancasila.
Mereka menunggangi isu rakyat kecil, menebar simpati, dan menyusup ke ruang-ruang akademik, organisasi sosial, dan bahkan ke politik praktis.
Tapi di balik wajah lembut “kemanusiaan” itu, tersimpan agenda lama: menggantikan ideologi negara dengan sistem yang menolak nilai Ketuhanan dan nasionalisme.
Mereka belajar dari masa lalu — kali ini tidak menyerang lewat senjata, tapi lewat opini, doktrin, dan teknologi informasi.
Perang Sunyi dan Stabilitas Nasional
Perang sunyi ini adalah bentuk baru dari infiltrasi. Tidak ada tank, tidak ada peluru, tapi ada propaganda dan manipulasi opini.
Mereka tahu, bangsa sebesar Indonesia tidak bisa dijatuhkan dari luar. Tapi bisa dilumpuhkan dari dalam, jika rakyat kehilangan kepercayaan pada negaranya sendiri.
Karena itu, serangan mereka diarahkan ke simbol-simbol negara: pemerintah, aparat penegak hukum, dan terutama TNI.
Tuduhan, fitnah, dan framing disebar seolah TNI adalah musuh rakyat. Padahal TNI lahir dari rahim rakyat dan berjuang hanya untuk merah putih.
Strategi mereka sederhana : jika rakyat curiga kepada tentaranya, maka benteng terakhir republik akan rapuh.
TNI Pilar Pertahanan yang Diuji
Tuduhan terhadap TNI bukan hal baru. Sejak pascareformasi, upaya melemahkan wibawa militer dilakukan secara sistematis.
Tujuannya bukan sekadar reformasi, tetapi pengikisan perlahan terhadap kepercayaan publik.
Mereka tahu, selama TNI solid dan rakyat percaya, maka tak ada kekuatan yang bisa menumbangkan republik ini.
Karena itu, fitnah menjadi senjata utama. Diciptakanlah narasi bahwa TNI melanggar HAM, TNI otoriter, TNI anti-demokrasi.
Padahal, TNI hari ini adalah TNI profesional — tidak berpolitik praktis, dan berdiri tegak di bawah kendali sipil sesuai konstitusi.
Oknum Bukan Institusi
Tentu, tidak ada institusi yang sempurna. Tapi yang perlu dibedakan adalah antara oknum dan institusi.
Bila ada pelanggaran, biarkan hukum yang bicara. Jangan biarkan isu segelintir orang merusak nama besar institusi yang menjaga bangsa selama 79 tahun merdeka.
TNI sadar betul, kepercayaan rakyat adalah modal utama. Tanpa dukungan rakyat, senjata tidak ada artinya.
Karena itu, di tengah badai tuduhan, TNI memilih diam dan bekerja. Diam bukan berarti kalah, tetapi karena kebenaran tidak butuh banyak bicara.
Kerja nyata TNI terlihat dari pengamanan laut, operasi pemberantasan penyelundupan, dan perbantuan dalam operasi pemberantasan korupsi di berbagai daerah.
Siapa yang Diuntungkan dari Kekacauan?
Ketika fitnah menyebar, ada baiknya rakyat bertanya: siapa yang diuntungkan?
Apakah tuduhan terhadap aparat itu murni kritik, atau ada agenda tersembunyi di baliknya?
Dalam politik global, pelemahan pertahanan nasional sering menjadi langkah awal untuk membuka pintu intervensi asing.
Karena tanpa pertahanan yang kuat, bangsa ini akan mudah ditekan lewat ekonomi dan diplomasi.
Dan bila itu terjadi, Indonesia akan kembali menjadi pasar dan wilayah eksploitasi, bukan bangsa yang berdaulat.
Kesadaran Kolektif dan Tanggung Jawab Rakyat
Rakyat hari ini harus lebih waspada daripada sebelumnya. Musuh bangsa tidak lagi datang dengan senjata, tapi dengan senyum dan informasi palsu.
Mereka tidak lagi berbaris di medan perang, tapi bersembunyi di balik akun palsu, forum diskusi, dan kelompok opini bayaran.
Karena itu, pertahanan terbaik hari ini bukan hanya di perbatasan, tapi di dalam pikiran rakyat.
Rakyat harus kritis, tapi jangan mudah dibenturkan dengan pemerintahnya sendiri.
Kritik boleh, tapi jangan sampai berubah menjadi alat penghancur kepercayaan publik terhadap negara.
Nasionalisme dan Reorientasi Moral Bangsa
Nasionalisme hari ini tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera di bulan Agustus. Nasionalisme berarti menjaga kedaulatan pikiran dan ekonomi bangsa setiap hari.
Bangsa ini harus belajar mencintai negaranya sendiri, tanpa harus menunggu diguncang bencana atau konflik.
Kedaulatan dimulai dari kesadaran — kesadaran bahwa tidak ada bangsa besar tanpa rakyat yang percaya pada negaranya.
Pemerintah sedang menanam pondasi baru. Tugas rakyat adalah menopang, bukan menggoyang.
Sebab, sejarah mencatat: bangsa yang hancur bukan karena musuh kuat, tetapi karena rakyatnya sendiri berhenti percaya pada negaranya.
Garuda Tidak Tunduk Lagi
Indonesia sedang menulis babak baru. Bab di mana hukum berdiri di atas politik, dan moral di atas kekuasaan.
Bab ini adalah ujian bagi semua pihak — apakah kita benar-benar ingin bangsa ini bersih, atau hanya ingin mengganti orang tanpa mengganti sistem.
Garuda kini sedang mengepakkan sayapnya. Ia bangkit dari tidur panjang, mengibas debu masa lalu, dan menatap masa depan dengan kepala tegak.
Dan seperti biasa, ketika garuda bangkit, para tikus mulai gelisah. Karena terang selalu mengusir kegelapan.
Mereka akan menyerang, mereka akan memfitnah, tapi sejarah selalu berpihak pada yang tulus membela kebenaran.
Sejarah yang Sedang Ditulis
Indonesia hari ini bukan sedang berperang melawan rakyatnya. Negara ini sedang berperang melawan kebusukan yang telah lama bersarang di tubuhnya.
Tidak ada agenda tersembunyi, tidak ada motif pribadi — hanya keinginan sederhana: agar republik ini bersih dan berdaulat penuh.
TNI, Polri, dan rakyat harus tetap bergandengan tangan. Jangan biarkan musuh lama masuk melalui celah kebencian dan prasangka.
Setiap kali bangsa ini bersatu, musuh kehilangan kekuatannya. Tapi setiap kali kita saling curiga, mereka kembali berkuasa.
Karena itu, kesatuan adalah senjata paling mematikan melawan infiltrasi.
Garuda dan Cahaya Kebenaran
Garuda tidak lagi terbang dengan sayap retak. Ia kini terbang dengan sayap hukum, moral, dan nasionalisme yang utuh.
Ia tidak tunduk pada kepentingan asing, tidak bertekuk lutut pada tekanan ekonomi global.
Garuda hanya tunduk pada amanah konstitusi, dan hanya berlutut di hadapan rakyat yang mencintai bangsanya.
Maka tugas kita semua adalah sederhana : jangan biarkan garuda ini kembali ditarik ke tanah oleh bayangan masa lalu.
Sebab kali ini, sejarah sedang menulis bab baru: Garuda tidak lagi tunduk pada bayangan siapa pun. Ia terbang untuk Indonesia yang berdaulat, bersih, dan bermartabat.(Red-001)

Comments0