BSCpGUY5BSM7TpClGSGoTUCiBA==

Pasar Keru, Aroma Bau Busuk Dari Sampah Tak Terurus Persis TPA Di Tengah Pemukiman dan Pasilitas Keagamaan


"
Lautan Sampah" di Pasar Keru Ternyata Tidak Pernah Diangkut Selama Ramadhan Hingga Usai Lebaran Idul Fitri, Padahal Disampingnya Ada Sekolah dan Masjid

Lombok Barat, dialogmandalika.com (28/03) ,-  "Saya sakit hati sekali liat lautan sampah (pasar Keru) ini tiap saya lewat sini, kok ndak diangkut-angkut!," keluh Sri, warga Keru, kecamatan Narmada, Lombok Barat di sela-sela kunjungan halal bihalal ke rumah-rumah tetangga dan kerabatnya belum lama ini. Keluhan wanita yang berprofesi sebagai guru berstatus ASN ini adalah salah satu ungkapan kekesalan warga yang bermukim di sekitar pasar Keru yang merupakan salah satu pasar terbesar di kabupaten dengan jargon Patut Patuh Patcu tersebut.

Kesan jorok dan kumuh dengan aroma bau busuk menyengat langsung menyambut setiap orang yang masuk atau melintas di pasar Keru kecamatan Narmada. Terlebih jika hujan turun, aroma bau busuk sampah pasar kian menyengat.

Seperti pantauan media ini beberapa hari terakhir, lokasi tempat pembuangan sampah (TPS) pasar Keru yang berlokasi persis di belakang sekolah Dasar Negeri (SDN), samping masjid dan di depan pemukiman warga, nampak kesan kumuh dan aroma bau busuk menyengat. Kerap terlihat sejumlah orang datang ada yang berjalan kaki ada juga tiba menggunakan motor dan membuang kantong-kantong plastik berisi sampah rumah tangga ke arah tumpukan sampah yang sudah berminggu-minggu tidak diangkut itu.

Tumpukan sampah meluber mulai dari bangunan TPS berukuran sekitar 3x10 meter di sebelah selatan hingga nyaris menyentuh badan jalan raya di sebelah utara. Sekitar tumpukan sampah juga terdapat puluhan lapak pedagang. Sebuah bangunan yang tinggal rangka kayu bekas los pasar yang sudah tidak difungsikan juga masih terlihat berdiri di sana. Atapnya sudah hilang semua. Puluhan anjing liar terlihat asyik bermain sambil mengais sisa-sisa makanan di atas tumpukan sampah.

Suherman, mandor pasar Keru ketika dikonfirmasi media ini, Jumat (27/3/2026) membenarkan jika sampah yang sudah menumpuk itu telah berminggu-minggu tidak diangkut oleh petugas kebersihan dari dinas lingkungan hidup (DLH). Bahkan selama bulan suci Ramadhan 1447 H lalu tidak pernah diangkut sama sekali. Ia mengaku banyak mendapat keluhan bukan hanya dari warga, bahkan dari para pedagang pasar.

Penumpukan sampah pasar Keru terjadi, menurut mantan mandor pasar Narmada Lombok Barat ini, akibat jadwal pengangkutan mulai berkurang. Dari yang sebelumnya 3-4 kali seminggu beberapa waktu lalu menjadi hanya sekali dalam sepekan. Dirinya juga tidak menampik kondisi "lautan sampah" kali ini akibat selama Ramadhan Hingga Usai Lebaran Idul Fitri 1447 H kemarin tidak pernah diangkut oleh Pemda.

"Saya Ndak tau kenapa begini. Kita sudah bersurat ke Dinas (LH) tanggal 25 Maret kemarin. Kita lampirkan juga tanda tangan puluhan pedagang (sekitar TPS)," ungkap Suherman.

Suherman berharap tumpukan sampah di TPS pasar Keru bisa diangkut secara rutin. "3 kali saja seminggu bisa sudah bersih lagi. Karena rata-rata sampah pasar 2 hari bisa diangkut oleh satu truk," jelasnya lebih lanjut.

Sementara itu, Saptinahudin, salah satu warga yang bermukim di depan pasar Keru kepada media ini mempertanyakan status dan legalitas lahan lokasi TPS dan puluhan lapak pedagang pasar Keru. Pria yang akrab di sapa Udin ini juga menyesalkan tindakan pemerintah yang lamban mengangkut sampah di TPS pasar Keru. Terlebih, lokasi TPS persis berhadapan di depan rumahnya. 

"Sementara penarikan iuran retribusi pasar di atas lahan yang belum jelas statusnya ini tiap hari berjalan. Bagaimana Pemda ini," cetusnya. 

Udin berharap, persoalan tumpukan sampah di TPS pasar Keru ini serta status legalitas lahan pasar bisa segera terungkap jelas. "Jangan sampai ada oknum yang "bermain"," tutupnya. (Alan-007)


Comments0

Type above and press Enter to search.