BSCpGUY5BSM7TpClGSGoTUCiBA==

Sampah Pasar Tradisional Belum Mampu Ditangani Pemda Lombok Barat, Ternyata Ini Penyebabnya


Lombok Barat, dialogmandalika.com (31/03) - Polemik sampah pasar di kabupaten Lombok Barat (Lobar) NTB terjadi hampir di semua pasar tradisional. Hingga saat ini pemerintah kabupaten Patut Patuh Patju disinyalir belum mampu menangani persoalan tersebut. 

Jumlah pasar tradisional di Lombok Barat sekitar 28 pasar. Pantauan media ini belum lama ini, tumpukan sampah menggunung dan berserakan hampir terjadi di semua pasar tradisional. 

"Lautan sampah" di pasar-pasar bukan hanya mengganggu pemandangan dan mencemari lingkungan, namun juga bau busuk yang menyengat sangat menggangu aktivitas masyarakat dan mengancam kesehatan manusia. Terlebih jika musim hujan tiba, bau busuk dari tumpukan-tumpukan sampah kian menyengat.

Tidak heran, banyak pedagang pasar, terutama yang lapak jualannya berlokasi di sekitar tempat pembuangan sampah sementara (TPS) mengeluh sepi pembeli, bahkan ada yang tidak bisa berjualan lagi ketika tumpukan sampah masih terus menggunung dan tak kunjung diangkut Pemda setempat.

Kabid Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Lobar, Lalu Adirin, ketika di konfirmasi di sela-sela kunjungan lapangan ke pasar Keru kecamatan Narmada, Selasa (31/3/2026) mengakui jika persoalan sampah hampir terjadi di semua pasar yang ada di Lombok Barat. Bahkan menurutnya, sumber sampah bukan hanya dari sampah pasar melainkan juga dari sampah rumah tangga yang dibuang oleh masyarakat sekitar.

Dijelaskannya, penyebab terjadinya masalah penumpukan sampah pasar menurut Adirin, akibat tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang ada di wilayah Kebon Kongok kini mulai membatasi jadwal pembuangan sampah, dari yang sebelumnya truk pengangkut sampah bisa membuang sampah kapan saja di lokasi TPA tersebut namun kini mulai dibatasi. 

Selain itu lanjutnya, mesin pengolah sampah yang sebelumnya telah disiapkan oleh pemda Lobar di dua kecamatan, yakni kecamatan Gunung Sari dan Lingsar mengalami kerusakan yang disebabkan oleh kelalaian pihak operator mesin.

"Mesin pengolahan (sampah) ini kan tidak bisa menerima sampah basah. Cuman, itulah kelalaian kita bersama, sampah basah kadang-kadang masuk. Akhirnya mesin mengalami kerusakan," ungkap Adirin. Ia juga mengaku pihaknya selalu berkoordinasi dengan Dinas Lingkungn Hidup (DLH) untuk penanganan sampah pasar.

Adirin menambahkan, untuk menanggulangi persoalan sampah pasar rencananya kedepan Pemda Lobar akan menyiapkan mesin pengolahan sampah di setiap kecamatan. "Untuk mengantisipasi, Pemda InsyaAllah akan mengadakan mesin pengolah sampah perkecamatan. Mudah-mudahan bisa cepat terealisasi," tandasnya.

Adirin berharap pengadaan mesin pengolah sampah satu mesin satu kecamatan ini bisa segera terealisasi sehingga permasalahan sampah pasar yang seperti tak ada ujungnya ini bisa segera terselesaikan. Lan-007.


Comments0

Type above and press Enter to search.