Lombok Barat dialogmandalika.com (19/07) --- Polemik pemberitaan dugaan kekerasan terhadap santri yang menampilkan visual Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny, Desa Kediri, Kabupaten Lombok Barat, dalam salah satu tayangan berita televisi nasional akhirnya menemukan titik terang.

Pertemuan yang dihadiri Pimpinan pondok pesantren Al Islahuddiny Lombok barat, Masyayikh, Tuan Guru, dan perwakilan Alumni dari sejumlah Kabupaten/Kota, Kepala Kantor Kemenag NTB menggelar silaturahmi dalam rangka penyampaian permintaan maaf dari Tim TvOne Minggu (19/7).

Pertemuan dan klarifikasi dilaksanakan  berjalan dengan baik, kedua pihak berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara baik. 

Selain memulihkan nama baik Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny, penyelesaian ini juga menjadi pengingat bagi insan pers untuk selalu mengedepankan akurasi, verifikasi, dan kehati-hatian dalam menjalankan tugas jurnalistik sesuai Kode Etik Jurnalistik.
Berikut versi yang dibagi menjadi empat paragraf dengan dua pernyataan dan dua kutipan.

Ketua IJTI NTB, Riadis Sulhi, menyambut baik proses islah dan klarifikasi yang ditempuh sebagai langkah penyelesaian persoalan secara persuasif. Menurutnya, penyelesaian melalui dialog dan tabayun menjadi cara yang tepat untuk menjaga hubungan baik antarpihak.

"Alhamdulillah, dengan bersilaturahmi dan bertabayun, semuanya menjadi lebih mudah," ujar Riadis Sulhi.

Ia juga mengapresiasi sikap terbuka pihak yayasan dan pengurus pondok pesantren yang telah menerima proses klarifikasi serta permintaan maaf dengan penuh kelapangan hati. Menurutnya, sikap tersebut menjadi fondasi penting dalam menyelesaikan persoalan secara damai.

"Terima kasih kepada pihak yayasan dan pengurus pondok pesantren yang berlapang dada menerima klarifikasi serta permintaan maaf ini. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak sekaligus menjadi langkah untuk semakin mempererat silaturahmi ke depan," tutupnya.(red AD-001)