Jakarta, dialogmandalika.com (15/07) – Di balik stempel resmi dan antrean Autogate Bandara Soekarno-Hatta, ada air mata yang hampir lolos.
Dalam temusnnya, Cristy Lemon jurnalis yang juga aktif di IPJI, menyebut TPPO kini berevolusi. Tidak lagi pakai jalur tikus. Kini pakai jalur resmi.
"Paspor sah, tiket ada, visa kunjungan lengkap. Tapi tujuannya dijual. Tubuh dan tenaganya diperdagangkan," kata Cristy (14/7/2026).
Saat diwawancara timnya, banyak calon korban justru terlihat rapuh. Bingung mau tinggal di mana. Tidak tahu nama perusahaan tujuan.
"Yang paling nyeri itu matanya. Senyumnya dipaksa. Karena mereka terdesak ekonomi," ujarnya lirih.
Sindikat menarik bayaran Rp4,5 juta - Rp7,5 juta per orang. Janjinya: kerja di Yunani, Turki. Realitanya: nihil.
Cristy juga menyinggung adanya bisik-bisik soal "uang pelicin" ke oknum di bandara agar bisa lolos.
Bagi Cristy, ini soal nurani. "Imigrasi sekarang ada di bawah Kementerian baru. Momennya pas untuk berubah. Jangan hanya jadi penjaga pintu. Jadilah pelindung warga."
Ia mengusulkan 3 hal: 1. Data terpadu antar lembaga, 2. Intelijen di kantong PMI, 3. Edukasi ke sekolah dan kampus.
"Karena pada akhirnya, tugas kita bukan melarang orang pergi. Tapi memastikan mereka pulang dengan selamat, utuh sebagai manusia," tutupnya.
_(Red.001)_

Comments0